HARITA.ID — Dewan Pendidikan Kota Cilegon menegaskan posisinya sebagai mitra strategis pemerintah dalam mengawal pembangunan sektor pendidikan sekaligus menjadi jembatan aspirasi masyarakat.
Ketua Dewan Pendidikan Kota Cilegon, Syaiful, mengatakan keberadaan Dewan Pendidikan bukan untuk mengambil alih kewenangan Dinas Pendidikan maupun Kementerian Agama. Menurutnya, lembaga tersebut hadir untuk memperkuat kolaborasi dalam menyelesaikan berbagai persoalan pendidikan di Kota Cilegon.
“Dewan Pendidikan bukan lembaga yang mengambil alih tugas Dinas Pendidikan dan juga bukan mengambil peran Kementerian Agama. Kami hadir sebagai mitra strategis pemerintah sekaligus jembatan aspirasi masyarakat,” ujar Syaiful, Kamis 27 Agustus 2206.
Syaiful mengatakan pembangunan pendidikan di Kota Cilegon memang terus mengalami perkembangan. Namun, di balik capaian tersebut masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang membutuhkan perhatian bersama.
Persoalan itu antara lain pemerataan akses pendidikan, daya tampung sekolah, kebutuhan sarana dan prasarana, hingga keterbatasan biaya personal yang masih menjadi beban bagi sebagian peserta didik.
“Hasil refleksi rapor pendidikan juga menunjukkan masih adanya tantangan pada aspek literasi dan numerasi. Bagi Dewan Pendidikan, angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Di balik setiap angka ada anak-anak Cilegon, ada keluarga, ada cita-cita dan ada masa depan yang tidak boleh kita biarkan berhenti,” katanya.
Berangkat dari persoalan tersebut, Dewan Pendidikan Kota Cilegon mulai mendorong sejumlah program konkret yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan hingga masyarakat.
Salah satunya melalui Gerakan Peduli Pendidikan dan Dompet Pendidikan. Program ini diharapkan menjadi wadah gotong royong untuk membantu peserta didik yang menghadapi kendala biaya pendidikan.
“Kami ingin melaporkan kepada Bapak Wali Kota bahwa Dewan Pendidikan Kota Cilegon mendeklarasikan Gerakan Peduli Pendidikan sekaligus meluncurkan Dompet Pendidikan. Ini merupakan upaya untuk membangun kepedulian bersama dan menghadirkan langkah konkret bagi anak-anak yang membutuhkan dukungan untuk melanjutkan pendidikan,” ujarnya.
Menurut Syaiful, persoalan pendidikan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar pembangunan pendidikan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
Ia juga menegaskan Dewan Pendidikan tidak dibentuk untuk mengejar kepentingan jabatan maupun kekuasaan.
“Kami ingin membuktikan bahwa kami hadir bukan untuk mengejar pangkat dan jabatan. Kegiatan hari ini juga menjadi bukti bahwa dengan kebersamaan dan kepedulian, kita bisa memberikan kontribusi kepada masyarakat,” tuturnya.
Syaiful menyebut masa depan pendidikan Cilegon merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat dan warga dinilai memiliki peran masing-masing dalam memastikan akses pendidikan tetap terbuka bagi seluruh anak.
“Masa depan pendidikan di Kota Cilegon tidak mungkin dibangun oleh Dewan Pendidikan sendiri. Karena itu, kita membutuhkan pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan seluruh masyarakat,” katanya.
Peluncuran Dompet Pendidikan menjadi salah satu langkah konkret dari Gerakan Peduli Pendidikan. Program tersebut diharapkan dapat menjadi ruang gotong royong masyarakat untuk membantu peserta didik yang menghadapi keterbatasan biaya pendidikan.
Semangat tersebut kemudian dirangkum dalam slogan “Cilegon Mendidik, Sedanten Terdidik.”
Pesannya sederhana: pembangunan pendidikan bukan hanya soal membangun sekolah atau meningkatkan angka statistik. Lebih jauh, pendidikan adalah memastikan setiap anak Cilegon memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, tumbuh, dan mengejar cita-citanya.
Sebab, satu anak yang kehilangan kesempatan bersekolah bukan sekadar kehilangan ruang belajar. Ada cita-cita keluarga dan masa depan generasi Cilegon yang ikut dipertaruhkan.
(Red*)








