Harita.id
Kamis, 1 Oktober 2026
  • Home
  • News
  • Daerah
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Sosial
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Tokoh
  • Opini
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Budaya & Religi
  • Advertorial
  • berita gosip artis terbaru
  • Info terkini
  • berita artis terbaru
  • tips kesehatan
  • Berita terbaru
  • berita artis terkkini
  • tips&trik
  • nunung srimulat
Harita.idHarita.id
Pengubah Ukuran FontAa
  • Home
  • News
  • Daerah
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Sosial
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Tokoh
  • Opini
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Budaya & Religi
  • Advertorial
Search
  • Home
  • Kanal
    • News
    • Daerah
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum
    • Ekonomi
    • Sosial
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Gaya Hidup
    • Tokoh
    • Opini
    • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Budaya & Religi
    • Advertorial
Sudah memiliki akun? Masuk
Ikuti KAMI
© 2026 darkslategrey-mongoose-970280.hostingersite.com. Designed with ❤︎⁠ by dezainin.com
Beranda » Algo Sapiens: Ketika Manusia Mulai Dikendalikan Mesin
Nasional

Algo Sapiens: Ketika Manusia Mulai Dikendalikan Mesin

admin
Diterbitkan: 30 September 2026
Bagikan
10 Menit Baca
- Advertisement -
Ad image

JAKARTA, HARITA.ID — Manusia menciptakan mesin pintar untuk membantu hidupnya. Namun, paradoks era digital justru muncul ketika mesin yang semula diciptakan untuk membantu manusia perlahan ikut menentukan bagaimana manusia berpikir, memilih, bahkan bertindak.

Manusia menciptakan algoritma—istilah yang diambil dari nama ilmuwan Muslim, Al-Khawarizmi—untuk membantu menganalisis persoalan dan mengambil keputusan. Namun dalam perkembangannya, berbagai keputusan itu justru semakin banyak diserahkan kembali kepada algoritma.

Algoritma memantau, mempelajari, melayani, sekaligus memberikan rekomendasi tentang apa yang sebaiknya kita lakukan.

Manusia menciptakan kecerdasan buatan untuk membantu kerja otak dan pikiran. Tetapi perlahan, kecerdasan buatan itu justru menjadi sandaran yang menggantikan sebagian kerja otak dan pikiran manusia.

Di titik inilah muncul figur baru: algo sapiens, manusia yang secara biologis tetap Homo sapiens, tetapi cara berpikir dan mengambil keputusannya semakin dibentuk oleh algoritma.

Baca Juga

Peresmian PW Mathla’ul Anwar Papua Barat Daya dan Papua Barat Dihadiri Wakil Gubernur
Dua Tahun Prabowo: Antara Negara Kuat dan Pemerintahan Efektif
Dirut Bank Aceh Raih SMSI Aceh Award: Penggerak Ekonomi Daerah melalui UMKM dan Industri Kreatif
Dewan Pers Siapkan Rapat Bersama Konstituen Bahas HPN 2027, AMSI Dukung Usulan SMSI di Jakarta

Algo sapiens bukan manusia yang berubah menjadi robot. Ia tetap memiliki tubuh biologis, emosi, keinginan, agama, keluarga, dan kehidupan sosial.

Yang berubah adalah metode dan kebiasaan berpikirnya.

Semakin banyak keputusan dalam kehidupan sehari-hari dibentuk oleh sistem algoritmik: apa yang dibaca, apa yang ditonton, barang apa yang dibeli, berita apa yang dipercaya, bahkan apa yang dianggap penting.

Baca Juga

Hadir di Dewan Pers, Hasyim Djojohadikusumo Ingatkan Media Jangan Sesatkan Publik
JAM-Intel Kejagung Apresiasi Pokja Newsroom Jaga Desa SMSI Kepri
Jembatan Merah Putih Presisi di Bayah Diresmikan, Gubernur Banten Andra Soni Hadir Bersama Forkopimda
Dahnil Ceritakan Filosofi Berdirinya Ormas Matahari Pagi Indonesia

Ironisnya, meski hidupnya semakin dipengaruhi oleh sistem dari luar dirinya, algo sapiens tetap merasa memiliki kebebasan. Ia tidak melihat rantai pengikatnya karena rantai itu tidak kasatmata.

Algoritma tidak bekerja seperti polisi yang mengatur lalu lintas dengan peluit.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Kekuasaan algoritmik bekerja jauh lebih halus.

Selama ribuan tahun manusia membangun peradaban berdasarkan pikiran dan pilihan bebas. Kebebasan bukan berarti manusia selalu mendapatkan apa yang diinginkannya. Kebebasan berarti manusia memiliki ruang untuk menentukan pilihannya sendiri.

Kini teknologi digital memperkenalkan bentuk kekuasaan baru. Kekuasaan lama bekerja dengan perintah: “Lakukan ini atau itu.”

Sementara teknologi digital hadir melalui bujuk rayu yang lebih halus:

Baca Juga

Resmi Dikukuhkan, PW Matahari Pagi Indonesia Provinsi Banten Fokus Bangun Gerakan Sosial Berbasis Optimisme 
Ketum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Himbau Kepada Pengurus dan Anggota Ikut PKPA Atau Pendidikan Mediator
Untuk Persatuan Indonesia, PWI Pusat dan Hotman Paris Sepakat Akhiri Polemik
Guru Besar Ilmu Politik Sebut Presiden Prabowo Tegak Lurus pada Konstitusi, Tidak Ada Ruang untuk Intervensi Hukum

“Saya tahu apa yang Anda inginkan. Saya punya saran tentang apa yang sebaiknya Anda lakukan.”

Setelah itu, sistem mulai mengatur pilihan yang muncul di hadapan kita.

Di sinilah pemikiran Shoshana Zuboff menjadi penting untuk diperhatikan.

Dalam bukunya The Age of Surveillance Capitalism (2018), Zuboff menjelaskan bagaimana pengalaman manusia dapat diekstraksi menjadi data perilaku (behavioral data). Data tersebut kemudian diproses untuk menghasilkan prediksi tentang apa yang akan dilakukan seseorang sekarang, beberapa saat lagi, atau di masa depan.

Prediksi itu kemudian memiliki nilai ekonomi dalam apa yang disebut Zuboff sebagai behavioral futures markets.

Dengan demikian, manusia bukan hanya pengguna teknologi. Manusia sekaligus menjadi sumber bahan baku bagi algoritma dan industri digital.

Kita menghasilkan data ketika mencari sesuatu di mesin pencari, menggunakan media sosial, bergerak membawa telepon pintar, berbelanja secara daring, menonton video, berbicara dengan perangkat digital, bahkan ketika berhenti beberapa detik lebih lama pada sebuah gambar dibandingkan gambar lainnya.

Aktivitas sehari-hari telah menjadi tambang data.

Semakin banyak data yang tersedia, semakin akurat sistem membaca pola perilaku manusia.

Pada tahap pertama, algoritma membaca kebiasaan dan preferensi kita. Ia mencatat apa yang kita sukai.

Tahap berikutnya, algoritma mulai memprediksi apa yang kemungkinan besar akan kita lakukan.

Pada tahap ketiga, algoritma perlahan mulai membentuk perilaku kita.

Inilah salah satu titik penting dalam analisis Zuboff. Persaingan menghasilkan prediksi yang semakin akurat mendorong sistem bukan hanya mengumpulkan lebih banyak data, tetapi juga melakukan intervensi terhadap perilaku manusia agar perilaku tersebut semakin mudah diprediksi dan diarahkan.

Rangkaian itu dapat diringkas menjadi: surveillance → prediction → intervention → behavioral modification.

Bermula dari pengawasan, berujung pada perubahan perilaku.

Inilah yang membuat era algoritma berbeda dari sekadar era komputer.

Franklin Foer dalam bukunya World Without Mind (2017) membawa persoalan tersebut ke wilayah yang lebih dalam.

Foer tidak hanya mengkhawatirkan tergerusnya ruang privasi, tetapi juga terancamnya otonomi pikiran manusia.

Menurut Foer, perusahaan teknologi besar telah mengubah cara manusia memperoleh informasi dan berpikir. Algoritma dapat mendorong manusia menuju konformitas, mempersempit pengalaman informasi, serta mengikis ruang untuk kontemplasi pribadi dan pikiran yang otonom.

Seseorang mungkin secara fisik bebas pergi ke mana saja. Ia bebas memilih barang yang hendak dibeli, restoran yang ingin didatangi, atau video yang ingin ditonton.

Namun pertanyaannya: apakah semua itu benar-benar lahir dari pilihan bebas?

Ataukah pilihan tersebut telah terlebih dahulu dikondisikan oleh rekomendasi algoritma?

Jika pikiran manusia semakin banyak dibentuk oleh sistem rekomendasi, seberapa bebas sesungguhnya pilihan tersebut?

Bayangkan seseorang membuka internet dengan niat mencari informasi.

Ia merasa sedang memilih informasi sesuai dengan kebutuhannya. Namun algoritma telah menentukan urutan informasi yang muncul di hadapannya.

Pada kesempatan lain, ia memilih video. Tetapi sistem sudah mempelajari jenis video yang kemungkinan besar sesuai dengan seleranya.

Bahkan ketika seseorang merasa menemukan sebuah gagasan baru, gagasan tersebut bisa saja muncul karena sistem telah memilihkannya berdasarkan ribuan jejak perilaku sebelumnya.

Manusia memang tidak kehilangan kemampuan untuk memilih.

Yang mungkin hilang adalah kesadaran tentang siapa yang membentuk dan menyediakan lanskap dari pilihan-pilihan tersebut.

Algo sapiens sekaligus memperlihatkan bentuk kekuasaan baru—sebuah penjara yang tidak membutuhkan tembok dan jeruji.

Kekuasaan algoritmik tidak selalu membutuhkan ancaman atau perintah. Ia cukup mengatur lingkungan pilihan.

Kita masih dapat memilih, tetapi pilihan yang tersedia telah disusun.

Kita masih dapat membaca, tetapi bacaan yang muncul paling awal telah dipilihkan berdasarkan sistem rekomendasi.

Kita masih dapat mencari informasi, tetapi informasi yang datang kepada kita telah melalui proses penyaringan berdasarkan rekam jejak digital.

Bentuk kekuasaan seperti ini tidak selalu mengatakan, “Anda harus melakukan ini.”

Ia cukup menyediakan objek, informasi, atau rekomendasi yang dianggap paling sesuai dengan kebutuhan dan kebiasaan kita berdasarkan rekam jejak yang telah dipelajari sistem.

Di sinilah kekuasaan algoritmik menjadi begitu halus.

Kita merasa sedang memilih, padahal lingkungan tempat kita memilih telah lebih dahulu dirancang.

Teknologi supercanggih memang telah membantu berbagai kebutuhan hidup masyarakat modern. Namun kecemasan manusia tidak serta-merta menghilang.

Senang, kecewa, cemas, jatuh cinta, bahagia, takut gagal, dan berharap adalah bagian dari pengalaman manusia yang tidak otomatis dapat digantikan mesin secanggih apa pun.

Dalam The Anxious Society, Byung-Chul Han membaca zaman kita sebagai zaman yang diliputi kecemasan: takut gagal, tertinggal, tersingkir, kehilangan masa depan, bahkan kehilangan kemampuan untuk mengendalikan kehidupan sendiri.

Kecemasan semacam itu dapat menghancurkan solidaritas dan membuat manusia semakin terisolasi.

Merasa sepi di tengah keramaian.

Jika gagasan Han ditempatkan berdampingan dengan Zuboff dan Foer, muncul rangkaian persoalan yang menarik.

Zuboff menjelaskan bagaimana manusia semakin dipantau dan diawasi.

Foer menjelaskan bagaimana pikiran manusia berisiko kehilangan otonominya.

Sementara Han Byung-Chul menjelaskan kondisi eksistensial manusia yang semakin cemas dan kesepian.

Ketiganya bertemu pada satu pertanyaan besar: Apa yang terjadi ketika algo sapiens semakin kehilangan kemampuan untuk mengendalikan hidupnya sendiri dan semakin sulit menemukan makna serta tujuan hidupnya?

Saat ini kita memang semakin mudah memperoleh informasi melalui teknologi digital. Tetapi pada saat yang sama, kita semakin sulit membedakan antara informasi yang benar-benar kita cari dan informasi yang hadir membanjiri kita karena disediakan oleh algoritma.

Semua itu pada awalnya terasa seperti kemudahan, keasyikan, dan kenyamanan.

Kemudian menjadi kebiasaan.

Dan akhirnya bisa berubah menjadi ketergantungan.

Bahaya yang lebih besar adalah ketika kebiasaan tersebut perlahan memperlemah kapasitas manusia sebagai Homo sapiens.

Daya ingat tidak lagi terlatih.

Daya analisis menjadi tumpul.

Manusia kehilangan pengalaman berharga dari proses salah memilih, gagal, lalu belajar dari kesalahan.

Manusia menjadi manusia karena mampu bertanya, pernah salah, lupa, berjuang mencari jawaban, dan bertanggung jawab atas pilihannya.

Ketika proses berpikir dan mencari jawaban semakin banyak didelegasikan kepada sistem mesin cerdas, muncul pertanyaan mendasar:

Siapa sebenarnya subjek atau agen yang bertanggung jawab secara moral?

Kecerdasan buatan mungkin memiliki intelligence yang semakin tinggi.

Tetapi kecerdasan bukanlah kebijaksanaan.

Secanggih apa pun teknologi, ia tidak dengan sendirinya bertanya tentang makna dan tujuan hidup.

Algoritma bekerja berdasarkan rekam jejak masa lalu. Rekam jejak tersebut membentuk pola, kemudian pola digunakan sebagai referensi untuk memprediksi masa depan.

Manusia memiliki kemampuan untuk memutus pola tersebut.

Manusia mengenal pertobatan.

Manusia bisa berubah.

Manusia bisa mengatakan tidak kepada kebiasaan masa lalu dan memilih jalan hidup yang sama sekali berbeda.

Karena itu, ketika manusia kehilangan kemampuan untuk merenung, meragukan, membayangkan, berempati, berharap, dan memilih kehidupan baru secara sadar, yang hilang bukan sekadar privasi.

Yang dipertaruhkan adalah sesuatu yang jauh lebih mendasar:

esensi kemanusiaan itu sendiri.

Jakarta, 30 September 2026

- Advertisement -
Ad image
Bagikan Artikel Ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Salin Tautan
Artikel Sebelumnya Ratu Zakiyah Minta Sekolah Jadi Ruang Aman bagi Anak, Orang Tua Diminta Ikut Mengawasi
- Advertisement -
Ad imageAd image
TERKINI

Ratu Zakiyah Minta Sekolah Jadi Ruang Aman bagi Anak, Orang Tua Diminta Ikut Mengawasi

Gubernur Banten Andra Soni Dengar Curhat Nelayan Sidamukti: Dermaga Rusak hingga Muara Dangkal

Pemkot Cilegon Genjot PAD, Lahan Sawah 20 Hektare Jadi Sumber Cuan Daerah

Pedagang Pasar Kranggot Dukung Penataan Parkir, Ada Satu Syarat

Menggalakkan Semangat Jurnalistik, Wakil Ketua DPRD Kota Cilegon Hadir Berbagi Motivasi di JBS Cilegon

- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
Berita Terkait
Nasional

Rakernas dan HUT ke 13 ASPRUMNAS, Bidik Bangun 50.000 Unit Rumah untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah

Nasional

Jelang Kongres II, Garda Pemuda NasDem Banten Kompak Dukung Prananda Surya Paloh

Nasional

Saat Dunia Dilanda Turbulensi, FORMAS Dorong Strategi Perkuat Ekonomi RI

Nasional

Calon Komisioner KPI Ferdi Setiawan Dorong Regulasi Setara untuk Media dan Platform Digital

Nasional

Jelang Pengesahan RUU PFII, SMSI Desak Klausul Anti Tax Avoidance Diperkuat

Harita.id
Harita.id menyajikan berita terpercaya, aktual, dan berimbang tentang berbagai peristiwa serta perkembangan yang penting bagi masyarakat.
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Disclaimer
  • Iklan

2016 © Harita.id. Designed with ❤︎⁠ by dezainin.com