HARITA.ID — Pemerintah Kota Cilegon mendorong masyarakat memanfaatkan teknologi digital untuk membuka peluang ekonomi. Salah satunya melalui Pelatihan dan Sertifikasi Digital Marketing Affiliate yang digelar di Aula Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Diskominfo) Kota Cilegon, Selasa (6/10/2026).
Wali Kota Cilegon Robinsar mengatakan perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat menjalankan aktivitas ekonomi. Menurutnya, masyarakat kini tak harus memiliki toko, lapak, bahkan stok barang untuk mulai berjualan.
“Kalau bicara mau jualan, mau dagang hari ini enggak perlu punya toko, enggak perlu punya lapak, enggak perlu punya barang juga. Cukup punya kemauan, cukup mau belajar, cukup mau bertindak,” kata Robinsar.
Ia menilai masyarakat harus mulai meninggalkan ketergantungan terhadap pola ekonomi konvensional dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
“Kalau kita tetap menggunakan pola-pola yang konvensional, tinggal ditunggu harinya. Kita hari ini harus mengikuti perkembangan zaman. Kita tidak bisa dengan cara-cara konvensional, cara-cara lama. Kalau terus menggunakan cara-cara tersebut, kita yang akan ikut tenggelam,” ujarnya.
Robinsar mencontohkan model affiliate marketing yang memungkinkan masyarakat memasarkan produk milik pihak lain tanpa harus memiliki stok barang.
Menurutnya, modal awal untuk memulai aktivitas tersebut relatif sederhana, yakni kemauan belajar dan perangkat yang sudah banyak dimiliki masyarakat.
“Kalau tidak punya uang, tinggal affiliate, kolaborasi dengan barang misalkan punya siapa ditaruh di situ, kita jualan, jadi dapat untung juga. Asal ada kemauan. Tinggal punya handphone, diisi kuotanya, saya rasa cukup hari ini,” tuturnya.
Namun, Robinsar mengingatkan peningkatan kualitas SDM di era digital tidak cukup hanya dengan menguasai keterampilan teknis atau hard skill. Kemampuan komunikasi, pemasaran, kreativitas dan pemanfaatan teknologi juga harus diperkuat.
“Hari ini kita butuh betul-betul keilmuan yang soft skill yang memang sesuai dengan kondisi hari ini. Kalau bicara SDM itu tidak melulu hard skill, tidak melulu bisa ngelas, tidak melulu bisa menjahit. Hari ini soft skill juga harus dikembangkan,” katanya.
Pemkot Cilegon, lanjut Robinsar, selama ini juga fokus meningkatkan kualitas SDM melalui berbagai program pendidikan, mulai dari beasiswa, sekolah gratis hingga revitalisasi sekolah.
Namun, menurutnya, pendidikan formal perlu berjalan beriringan dengan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan ekonomi digital.
“Pemkot Cilegon kalau bicara pendidikan juga fokus bagaimana SDM Cilegon yang unggul, yang bisa berdaya saing. Tapi itu tidak cukup. Hari ini kita butuh keilmuan yang soft skill yang memang sesuai dengan kondisi hari ini,” ujarnya.
Robinsar juga mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak dalam pelaksanaan program tersebut. Di antaranya Balai Besar Vokasi dan Pelatihan (BBVP), Apindo, Dewan Pendidikan Kota Cilegon, Yayasan Krakatau Steel dan STIKOM Insan Unggul.
“Kalau bicara peningkatan SDM tidak bisa berjalan sendiri. Kita harus bersinergi dan saling menguatkan,” katanya.
Ia meminta peserta memanfaatkan pelatihan secara maksimal dan tidak berhenti pada teori.
“Saya minta kepada seluruh peserta tolong dioptimalkan, dimaksimalkan kesempatan yang baik pada hari ini. Semoga program ini bisa manfaat dan juga bisa diimplementasikan untuk bisa meningkatkan roda perekonomian di lingkungan kita masing-masing,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Kota Cilegon Syaeful Bahri mengungkapkan tingginya minat masyarakat mengikuti pelatihan tersebut. Tercatat lebih dari 500 orang mendaftar.
Namun, keterbatasan ruang belajar dan instruktur membuat panitia hanya dapat menerima 225 peserta yang dibagi dalam tujuh kelas.
“Dari 500 lebih yang daftar, ternyata kami tidak mungkin menerima semuanya. Karena keterbatasan ruang belajar dan juga keterbatasan instruktur, kami hanya bisa menerima tujuh kelas, lima kelas di STIKOM dan dua kelas di Yayasan Krakatau Steel,” ujar Syaeful.
Menurut Syaeful, program tersebut tidak berhenti pada pelatihan digital marketing. Peserta juga akan mengikuti sertifikasi kompetensi.
Ia berharap peserta dapat memahami bahwa affiliate marketing bukan sekadar aktivitas menjual produk, tetapi juga tentang membaca peluang, membangun kepercayaan dan menciptakan konten yang bernilai.
“Pelatihan digital marketing affiliate bukan sekadar belajar menjual produk. Lebih jauh, kita akan belajar bagaimana membaca peluang, bagaimana membangun kepercayaan, bagaimana membuat konten yang bernilai, dan bagaimana memanfaatkan teknologi. Karena kita ingin mengubah ruang digital menjadi ruang produktif,” katanya.
Syaeful mengingatkan peserta agar tidak berhenti mempraktikkan ilmu setelah pelatihan dan sertifikasi selesai.
“Jangan sampai setelah pelatihan dan sertifikasi ilmunya berhenti. Justru setelah pelatihan, inilah praktik sebenarnya dimulai. Mulailah dari yang kecil, pilih produk yang baik, bangun konten yang jujur, jangan hanya mengejar penjualan, tapi bangun kepercayaan,” ujarnya.
Ia berharap pelatihan tersebut dapat melahirkan lebih banyak affiliate marketer, content creator, entrepreneur digital hingga pelaku UMKM baru di Kota Cilegon.
“Mari kita ubah handphone dari sekadar alat komunikasi menjadi alat produktivitas. Mari kita ubah media sosial dari sekadar tempat bersosialisasi menjadi ruang berkarya dan menghasilkan. Dan yang paling penting, jangan hanya menjadi konsumen di era digital, jadilah pencipta peluang dan penghasilan di era digital,” pungkasnya.
Program tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama peningkatan kompetensi SDM melalui pelatihan digital marketing antara BBVP, Apindo, Dewan Pendidikan Kota Cilegon dan Dinas Tenaga Kerja Kota Cilegon.
Pelatihan Digital Marketing Affiliate berlangsung selama empat hari, 6-9 Oktober 2026. Setelah itu, peserta akan mengikuti ujian sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) pada Sabtu (10/10/2026).
(Red*)











